Laman

Selasa, 20 Januari 2015

akhirnya, selamat aa'

Akhirnya, iya akhirnya kamu sampai di titik itu.
Setelah segala semangat tersemat setiap hari, kantuk tertahan setiap malam, keluh yang kadang terpendam untuk sebuah tujuan dan untaian doa yang mengalir bagai anak sungai tak temui pusaran.

Aku bahagia, sangat bahagia. Alhamdulillah.
Tak hentinya mengucap syukur, setidaknya ini awal permulaan hidupmu.

Tak banyak kata menguraikan, aku bahagia aa'..
Ini bukan tentang janji kembali, bukan tentang akhir ceritamu, bukan.
Entahlah, aku bahagia. Cukup.

Ini bahagiamu kan?
Kenapa tak kamu bagi padaku?
..
Ah sudahlah, bukankah memang bukan aku yang menemanimu sampai di titik ini, aa'.

Kalau sedikit boleh berharap, ingin kamu bagi sedikit saja tentang perasaan membuncah Ibumu, sedikit saja aa'..

Tapi kamu menghilang, tak (lagi) ada kabar.
(mungkin) kamu sibuk.

Selamat aa', aku bahagia. Sungguh. Entahlah.

Minggu, 18 Januari 2015

perempuan itu, Ibumu..

Sore itu hujan. Seperti biasa langit gelap dan aku tetap tak suka hujan. Bedanya aku basah kuyup, tak lekas pulang tapi sempatkan sebentar bertemu perempuan itu.
Saat (masih) ada banyak perempuan di hidupmu, aku yakin hanya perempuan itu yang benar-benar kamu cintai melebihi perempuan manapun.

Perempuan itu sederhana, sesederhana kalimatnya saat sedang menceritakan dua lelakinya. Aku tau ada banyak doa yang selalu terselip untuk dua lelakinya, seperti betapa banyak harap yang dia ceritakan tentang dua lelakinya.

Aku tak suka hujan, tapi aku suka Ibumu.
Aku suka saat dia bercerita tentang masa kecilmu, bercerita sambil menirukan gaya dan celoteh lucu lelaki kecilnya. Aku suka saat melihatnya tertawa mengingat tingkahmu yang menggemaskan dulu. Aku suka saat melihat binar matanya bangga menceritakan lelaki kecilnya beranjak dewasa dengan semua pilihan hidupnya. Dan aku bangga pernah mengenalmu selama itu, hampir d e l a p a n tahun.

Aku tak selalu suka hujan, tapi sore itu aku berharap hujan reda sedikit lebih lama agar aku bisa mendengar banyak cerita tentangmu.
Aku dengar kamu sedang mempersiapkan awal permulaan hidupmu. Bahwa selalu kamu bilang, "setelah ini benar-benar hidup". Hidup sebagai seorang lelaki dewasa yang memikul banyak tanggung jawab. Aku bangga sama hal nya seperti Ibumu yang tak henti binar matanya membanggakanmu.
Aku yakin kamu masih menyimpan rapi tekadmu dulu. Membahagiakan dia selepas benar-benar jadi lelaki dewasa. Sungguh, aku tak mampu membayangkan betapa akan bahagianya dia..

Banyak yang berbeda, sedikitnya tentang dulu dan sekarang.
Dulu, aku tak suka perbincangan di telepon. Tapi sekarang setidaknya ada yang senantiasa sekedar menanyakan kabar. Setidaknya ada yang sekedar menunggu kabarku, mengkhawatirkanku  lalu kembali memperbincangkanmu. Sesederhana itu, sehangat itu cukup.
Sekarang, saat bertemu Ibumu aku tak perlu bersusah payah menciptakan topik sekedarnya. Cukup diam, menatap matanya, mendengarkan dia bercerita tak ada habisnya. Aku suka, terlebih aku suka melihat binar matanya.

Aku sudah bilang, aku mungkin bisa 'kehilanganmu' tapi belum tentu aku sanggup kehilangan semua ketulusan mereka, orang-orang terkasihmu. Ini bukan lagi tentang aku dan kamu, tapi tentang mereka yang entah dalam sujudnya serta harapnya memperkenankan kamu berjodoh dengan siapa..

Sekarang aku mengerti mengapa harus ada 'perpisahan'. Bahwa karena itu aku bisa lebih dekat, sangat dekat, begitu hangat dengan orang-orang terkasihmu.
Sekarang aku paham mengapa kita di pertemukan. Bahwa setidaknya kita saling mengajarkan, untukku sebuah kehangatan keluargamu. Untukku sebuah kesederhanaan tentang peluh dan setangkup doa.

Kamu tak perlu ragu karena selalu ada banyak doa dalam sujudnya melebihi aku. Selesaikan urusan, persiapkan semua sembari aku juga mempersiapkan hati untuk harimu (mungkin) akan ada banyak hal yang menyesakkan dadaku, meruntuhkan hatiku.

.....

Aku ingat percakapan entah berapa saat lalu,

t : aku perempuan nomor berapa di hidupmu?
b : nomor dua
t : kok nomor dua?
b : soalnya nomor satu Ibuk, baru kamu.

Sekarang? Entahlah :)

.....

*semangat aa', sebentar lagi satu garis pencapaian kamu lalui
*hilang kabar, menimbun rindu, menikmati sesak, memaklumi sibukmu
*aku masih ada rencana rahasia tentang 'pemersatu', 'hangat', 'darah' sesederhana 'bingkai'. Aku harap masih ada kesempatan untuk itu.
*maafkan, setidaknya kamu harus tau bahwa aku butuh banyak kata untuk merangkai setiap kalimat ini agar tak menyakiti perempuan(mu) yang lain.

Satu hal lagi, kamu pasti paham ini rumahku.

Senin, 12 Januari 2015

Sesederhana Doa

Hai a' apa kabar?
Aku tak berharap untuk selalu merindu karena datangnya mampu mengusik malamku.

Kata pujangga,
"doa adalah bahasa rindu dan cinta
yang paling cepat sampai ke hati tanpa perlu di dengar atau dibaca"

Sebatas rindu cukup tersampaikan dengan doa, namun sesederhana doa belum tentu mampu menuntaskan gejolak rindu.

Rasaku masih sama a', rasamu? Entahlah :)
Setidaknya disana aku bisa mengadu pada Pemilik Hati bukan untuk menuntut-Nya untuk menuntunmu pulang padaku. Bukan.

Kalau boleh tentu saja aku meminta dijadikannya aku pantas untukmu dan kamu pantas untukku.
Namun siapa tau akhir cerita? Aku rasa tak berhak menuntut banyak pada-Nya.
Cukup terselip doa kamu disandingkan dengan perempuan lebih baik, mungkin bukan dia atau mungkin bukan juga aku.
Sekali lagi siapa tau akhir cerita?
Aku pun berharap dia disandingkan dengan lelaki yang lebih baik darimu atau mungkin lelaki terbaik itu kamu. Aku tak tau.

Hanya saja kalau boleh aku meminta dipantaskan aku dan kamu tidak lagi berada pada jalan yang berbeda. Bersama. Lagi.

Katamu, "apa boleh meminta berlebih menuntut kita bersama pada-Nya?".
Entahlah a', aku hanya sebatas mengirimkan sebait doa menuntaskan resah hatiku.

Setidaknya rasaku masih sama, hanya saja aku pernah lelah. Namun lelahku ternyata tak mampu melenyapkan rasa sejak hampir d e l a p a n tahun lalu.

Sekarang aku hanya sedang menikmati rindu yang mengusik malamku. Memeluk hatimu dengan doaku.

-selamat malam a'-

Senin, 29 Desember 2014

Maaf..

Maaf, cukup satu kata saja, empat huruf saja..
Bermakna lebih dari sekian puluh ribu kalimat, berharga lebih dari banyak kesalahan.

Tak berharap lebih, cukup sesingkat maaf saja cukup melegakan.
Bukan kesalahan? Tak ada yang salah? Baiklah, setidaknya maaf bisa mengobati luka hati. Sedikit bisa mengobati 'benteng pertahanan' yang runtuh walau tak bisa untuk membangunnya lagi.
Itu hanya hal sepele bukan? Iya, memang benar. Tapi bayangkan ketika kamu sedang menyusun banyak dadu untuk menjulang tinggi lalu 'hanya' hal kecil menyentuhnya, apa yang terjadi? Bukankah ini juga 'hanya' hal kecil yang sepele.

Kamu hanya tak pernah tau seberapa besar usaha untuk tetap mempertahankan benteng pertahanan (hati) itu untuk tetap menjaganya. Kamu hanya tak pernah (ingin) tau seberapa besar kecemasannya hanya untuk memikirkan hal kecil mengenaimu. Kamu juga hanya tak pernah (berusaha) tau kabar hatinya saat merindu. Dan yang pasti tak kamu tau, dia tak pernah meminta untuk memikirkanmu walau dia juga tak kuasa menolak untuk melupakan sedetik saja tentangmu.

Sesering maaf? Tidak, tentu tidak. Dulu ada banyak kata maaf bahkan di bukan kesalahan sekalipun. Lalu apa sulitnya mengucap kata maaf sekarang? Cukup satu kata saja, empat huruf saja..


......


Terlepas dari apa dan siapa yang meminta maaf.

Saya pribadi ingin meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersakiti oleh tutur kata, tulisan, tindakan saya yang di sengaja maupun tidak, yang di ketahui maupun tidak.

Saya pikir tidak ada seorangpun yang berniat menyakiti perasaan orang lain, hanya saja terkadang hal yang saya anggap benar berbeda dengan anggapan orang lain.

Semoga Allah melembutkan hati untuk siapapun yang merasa tersakiti oleh saya, sekali lagi saya minta maaf :)

Minggu, 29 Juni 2014

Hai, Selamat Malam a'

Hai a' selamat malam..

Begitu menggebu yang tertahan, seharusnya itu kalimat yang ingin tersampaikan malam ini a'.
Aku pun menulis ini entah dengan perasaan berbentuk apa, seharian sejak semalam hati tak karuan, terbayang dan rasanya ingin mengulang pertemuan tak terduga semalam.

Benar kan a' bahwa Allah selalu punya cara yang mendebarkan hati dalam pertemuan tak terduga. Gemetar, salah tingkah, bersemu merah coba apalagi a' respon tubuh yang dikendalikan paksa untuk menahan gejolak rasa.

Semalaman susah tidur, ah iya a' benar kata pujangga bahwa bukan hanya kesedihan yang membuat orang susah tidur, dengan kebahagiaan yang akupun tak tau harus menyebutnya apa harus memaksaku menata hati semalaman.

Maafkan a' sungguh aku sudah berusaha menahan seluruh perasaan yang datang tiba-tiba ini, aku tak mau menyakiti siapapun. Aku tak mau mengulang kekeliruan yang akan menyakiti hati kita, mungkin juga hatinya. Aku hanya tak mau kecewa berulang kali, membuka kesempatan untukmu mampir pulang sebelum kau benar-benar pulang a'..

Sudah a' selesaikan dulu urusanmu, setelah itu jika memang jalan takdirmu menuntunmu pulang menemuiku kembali, aku akan menyambutmu dan mengatakan, "Akhirnya kau pulang, akhirnya kau kembali a'. Penantian yang tak sebentar bukan a'? Aku mampu a'..".

Satu hal a' tak usah kau risaukan, semua tetap sama tak ada yang sedikitpun berbeda dari perasaanku.
Sungguh maafkan, aku pun tak ingin sebenarnya menyakiti siapapun. Tapi hakikatnya semua orang berhak bahagia bukan?

Terkadang kebahagiaan kita akan menyakiti seseorang, tapi tergantung kita melihat dari sudut pandang yang mana kan a'? Begitupun mungkin kondisi yang menyakitkan akan memberi kebahagiaan untuk seseorang. Tapi apapun itu Allah sudah mengatur sebaik-baik takdir hidup manusia kan a'?



*Selamat malam a', semoga rinduku terwakilkan oleh doaku..

Kamis, 29 Mei 2014

selamat ulang tahun, a'

Ini kali kedua ulang tahun mu tanpa aku. Ah sebenarnya tak seberapa penting bukan?
Aku tak menyiapkan apapun kali ini, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi bukan berarti aku melupakan hari bahagiamu a'..

Aku hanya mundur satu langkah, mempersilahkan orang yang memang 'berhak' menyiapkan banyak hal istimewa untukmu hari ini.
Aku hanya mundur satu langkah, mempersilahkan orang yang memang 'berhak' menjadi orang yang pertama kali kau terima ucapan penuh doa bahkan kau temui penuh perasaan membuncah hari ini.

-duapuluhsatutahun- a' betapa umur selalu mengikuti setiap hembusan nafasmu setiap waktu..
Betapa waktu terlalu cepat untuk menyebut kau semakin dewasa a'..
Ah betapa banyak urusan yang pasti telah kau selesaikan dengan baik dan sudah siap menunggu urusan lain yang akan menantang kedewasaanmu..

Sungguh a' aku tak menyiapkan apapun untukmu hari ini..
Tapi bukan berarti aku melupakanmu, sedetikpun aku belum mampu.
Bahkan ketika banyak teman bertanya tentang kata 'setia' karena aku tetap saja begini, aku tak punya cukup banyak alasan menjawab.

-duapuluhsatutahun- a' pasti ada banyak hal yang berbeda darimu yang tak aku tau.
Satu yakinku, kau pasti menjadi sosok lebih baik dari yang aku kenal dulu.
Dulu? Ah ya, sebenarnya kita belum lama dipertemukan dalam perjumpaan singkat bukan?
Hingga pertemuan yang sebenarnya sepintas kau janjikan dua bulan lalu hanya tinggal harapan perasaanku saja, sudahlah a' mungkin kau lupa. Sungguh tak mengapa, aku banyak belajar bahwa perasaan tak seharusnya berlari terlalu jauh berharap untuk dipenuhi a'..

Sungguh a' aku tak menyiapkan apapun hari ini..
Cukup setangkup doa setiap sujudku untuk melegakan seluruh kecemasan hatiku, berharap kau selalu baik-baik saja..
Itu terlampau lebih dari cukup a', sungguh..
Aku tak berharap banyak sekarang, aku tak berharap lebih pada Pemilik Hati biarlah seluruh 'tangan-tangan'-Nya yang bekerja mempertemukan hatimu dengan milikmu, begitu sebaliknya..

Setiap rindu, sepersekian detik aku merindumu hanya setangkup doa yang senantiasa aku titipkan pada Pemilik Jiwa untuk menjagamu, menghangatkan hatimu dirubungi doaku..

Selesaikan seluruh urusanmu a', sempurnakan seluruh pengharapan masa depanmu a'..
Aku tak berharap lebih, sungguh..
Cukup satu : "sehat-sehat yaa a'.."



-selamat ulang tahun, a'..-

Sabtu, 22 Maret 2014

Bertahanlah..

Siapa yang bisa menebak alur cerita selain Sang Sutradara?
Aku tak sedikitpun bisa menebak kemana hati ini akan berpihak, lupakan atau bertahan?

Setidaknya sekarang aku tak lagi merasa terombang-ambing resah menunggu kabar, bukankah semua urusanmu sudah aku 'serahkan' pada-Nya?
Walaupun tak memungkiri kadang rindu menghampiri, ah bahkan sering. Tapi setidaknya aku tak lagi merasa lemah menahan gejolak rindu itu menjadi 'tuntutan' yang membebanimu.
Sekarang aku baik-baik saja, dengan ajaib kalimat itu bagaikan mantra ampuh yang membuatku berusaha baik-baik saja.

Kau mampir? Bukan. Tak lagi aku menganggapmu mampir 'pulang' sewaktu-waktu. Aku hanya tak ingin berharap kau akan benar-benar siap 'pulang' sekarang.
Satu hal, kalau kau belum siap untuk 'pulang' sekarang, jangan hampiri rumahmu yang kosong itu terlalu lama. Bagiku bahkan sebenarnya inginku, kau lebih lama hanya untuk sekedar 'menyapa'.
Bahwa tak mudah saat aku harus mencekik tenggorokan menahan agar semua cerita yang kusimpan tak terlalu menggebu untuk ingin kau ketahui. Harusnya aku mengerti tak lagi aku bisa menceritakan banyak cerita sedetail dulu setiap hari.

Tak mengapa, setidaknya ya lagi-lagi setidaknya untuk menghibur diri keadaan ini membuatku selalu merindukan pertemuan-pertemuan tak terduga. Mengapa? Karena aku percaya disana, dipertemuan tak terduga ada banyak tangan Tuhan bekerja..

Bertahanlah tika, semua akan baik-baik saja. Bukankah ini pilihanmu?
Bersabarlah tika, redam gejolak rindumu. Bukankah ini pilihanmu?
Menunggulah... tika bukankah ini yang selalu kau yakini?



Lucky Charms Rainbow