Laman

Minggu, 29 Juni 2014

Hai, Selamat Malam a'

Hai a' selamat malam..

Begitu menggebu yang tertahan, seharusnya itu kalimat yang ingin tersampaikan malam ini a'.
Aku pun menulis ini entah dengan perasaan berbentuk apa, seharian sejak semalam hati tak karuan, terbayang dan rasanya ingin mengulang pertemuan tak terduga semalam.

Benar kan a' bahwa Allah selalu punya cara yang mendebarkan hati dalam pertemuan tak terduga. Gemetar, salah tingkah, bersemu merah coba apalagi a' respon tubuh yang dikendalikan paksa untuk menahan gejolak rasa.

Semalaman susah tidur, ah iya a' benar kata pujangga bahwa bukan hanya kesedihan yang membuat orang susah tidur, dengan kebahagiaan yang akupun tak tau harus menyebutnya apa harus memaksaku menata hati semalaman.

Maafkan a' sungguh aku sudah berusaha menahan seluruh perasaan yang datang tiba-tiba ini, aku tak mau menyakiti siapapun. Aku tak mau mengulang kekeliruan yang akan menyakiti hati kita, mungkin juga hatinya. Aku hanya tak mau kecewa berulang kali, membuka kesempatan untukmu mampir pulang sebelum kau benar-benar pulang a'..

Sudah a' selesaikan dulu urusanmu, setelah itu jika memang jalan takdirmu menuntunmu pulang menemuiku kembali, aku akan menyambutmu dan mengatakan, "Akhirnya kau pulang, akhirnya kau kembali a'. Penantian yang tak sebentar bukan a'? Aku mampu a'..".

Satu hal a' tak usah kau risaukan, semua tetap sama tak ada yang sedikitpun berbeda dari perasaanku.
Sungguh maafkan, aku pun tak ingin sebenarnya menyakiti siapapun. Tapi hakikatnya semua orang berhak bahagia bukan?

Terkadang kebahagiaan kita akan menyakiti seseorang, tapi tergantung kita melihat dari sudut pandang yang mana kan a'? Begitupun mungkin kondisi yang menyakitkan akan memberi kebahagiaan untuk seseorang. Tapi apapun itu Allah sudah mengatur sebaik-baik takdir hidup manusia kan a'?



*Selamat malam a', semoga rinduku terwakilkan oleh doaku..

Kamis, 29 Mei 2014

selamat ulang tahun, a'

Ini kali kedua ulang tahun mu tanpa aku. Ah sebenarnya tak seberapa penting bukan?
Aku tak menyiapkan apapun kali ini, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi bukan berarti aku melupakan hari bahagiamu a'..

Aku hanya mundur satu langkah, mempersilahkan orang yang memang 'berhak' menyiapkan banyak hal istimewa untukmu hari ini.
Aku hanya mundur satu langkah, mempersilahkan orang yang memang 'berhak' menjadi orang yang pertama kali kau terima ucapan penuh doa bahkan kau temui penuh perasaan membuncah hari ini.

-duapuluhsatutahun- a' betapa umur selalu mengikuti setiap hembusan nafasmu setiap waktu..
Betapa waktu terlalu cepat untuk menyebut kau semakin dewasa a'..
Ah betapa banyak urusan yang pasti telah kau selesaikan dengan baik dan sudah siap menunggu urusan lain yang akan menantang kedewasaanmu..

Sungguh a' aku tak menyiapkan apapun untukmu hari ini..
Tapi bukan berarti aku melupakanmu, sedetikpun aku belum mampu.
Bahkan ketika banyak teman bertanya tentang kata 'setia' karena aku tetap saja begini, aku tak punya cukup banyak alasan menjawab.

-duapuluhsatutahun- a' pasti ada banyak hal yang berbeda darimu yang tak aku tau.
Satu yakinku, kau pasti menjadi sosok lebih baik dari yang aku kenal dulu.
Dulu? Ah ya, sebenarnya kita belum lama dipertemukan dalam perjumpaan singkat bukan?
Hingga pertemuan yang sebenarnya sepintas kau janjikan dua bulan lalu hanya tinggal harapan perasaanku saja, sudahlah a' mungkin kau lupa. Sungguh tak mengapa, aku banyak belajar bahwa perasaan tak seharusnya berlari terlalu jauh berharap untuk dipenuhi a'..

Sungguh a' aku tak menyiapkan apapun hari ini..
Cukup setangkup doa setiap sujudku untuk melegakan seluruh kecemasan hatiku, berharap kau selalu baik-baik saja..
Itu terlampau lebih dari cukup a', sungguh..
Aku tak berharap banyak sekarang, aku tak berharap lebih pada Pemilik Hati biarlah seluruh 'tangan-tangan'-Nya yang bekerja mempertemukan hatimu dengan milikmu, begitu sebaliknya..

Setiap rindu, sepersekian detik aku merindumu hanya setangkup doa yang senantiasa aku titipkan pada Pemilik Jiwa untuk menjagamu, menghangatkan hatimu dirubungi doaku..

Selesaikan seluruh urusanmu a', sempurnakan seluruh pengharapan masa depanmu a'..
Aku tak berharap lebih, sungguh..
Cukup satu : "sehat-sehat yaa a'.."



-selamat ulang tahun, a'..-

Sabtu, 22 Maret 2014

Bertahanlah..

Siapa yang bisa menebak alur cerita selain Sang Sutradara?
Aku tak sedikitpun bisa menebak kemana hati ini akan berpihak, lupakan atau bertahan?

Setidaknya sekarang aku tak lagi merasa terombang-ambing resah menunggu kabar, bukankah semua urusanmu sudah aku 'serahkan' pada-Nya?
Walaupun tak memungkiri kadang rindu menghampiri, ah bahkan sering. Tapi setidaknya aku tak lagi merasa lemah menahan gejolak rindu itu menjadi 'tuntutan' yang membebanimu.
Sekarang aku baik-baik saja, dengan ajaib kalimat itu bagaikan mantra ampuh yang membuatku berusaha baik-baik saja.

Kau mampir? Bukan. Tak lagi aku menganggapmu mampir 'pulang' sewaktu-waktu. Aku hanya tak ingin berharap kau akan benar-benar siap 'pulang' sekarang.
Satu hal, kalau kau belum siap untuk 'pulang' sekarang, jangan hampiri rumahmu yang kosong itu terlalu lama. Bagiku bahkan sebenarnya inginku, kau lebih lama hanya untuk sekedar 'menyapa'.
Bahwa tak mudah saat aku harus mencekik tenggorokan menahan agar semua cerita yang kusimpan tak terlalu menggebu untuk ingin kau ketahui. Harusnya aku mengerti tak lagi aku bisa menceritakan banyak cerita sedetail dulu setiap hari.

Tak mengapa, setidaknya ya lagi-lagi setidaknya untuk menghibur diri keadaan ini membuatku selalu merindukan pertemuan-pertemuan tak terduga. Mengapa? Karena aku percaya disana, dipertemuan tak terduga ada banyak tangan Tuhan bekerja..

Bertahanlah tika, semua akan baik-baik saja. Bukankah ini pilihanmu?
Bersabarlah tika, redam gejolak rindumu. Bukankah ini pilihanmu?
Menunggulah... tika bukankah ini yang selalu kau yakini?



Minggu, 24 November 2013

cukup

Benar ketika mencari tau sama dengan mencari luka.
Tapi ternyata tak sengaja tau sama dengan dapati luka-luka.
Berapa ratus kalimat bercerita tentang luka yang tak kunjung sembuh.
Berapa kali mulut berbusa meracau tentang luka yang tak temui obatnya. cukup.

Tak lagi menyentuh kata menunggu.
Jika tak ada lagi yang harus ku tunggu. cukup.

Aku terbuai dengan penerimaan yang kau sebut proses.
Mungkin aku terlalu menikmati prosesmu dalam sakit yang kau anggap wajar.
Sedang kau tak ijinkan aku menuntut prosesmu dipercepat.
Hanya demi membebaskan ku dari seluruh rasa sakit ini.
Aku tak mau lagi terbodohi berkali-kali oleh bualan janji.
Janji yang lagi-lagi hanya harapan yang kau sebut proses. cukup.

Pernahkah kau ingin menjelaskan banyak hal sebagai bukti bahwa kau tak gila?
Iya. Aku sering. Bahkan setiap saat ketika banyak orang bertanya mengapa aku tetap begini.
Menunggu kepulangan. Tak mampu menjelaskan.
Hanya karna tak mau melanggar janji untuk menyimpan rapat rencana yang kau sebut proses.
Hanya karna tak mau menjadi penghalang prosesmu.
Betapa aku harus menikam perasaan ego pada seluruh tanya dari semua orang.
Mengatakan, "aku tak gila, percayalah dia berjanji akan pulang"
Betapa aku harus menahan ego pada komentar tentang kabahagiaan barumu.
Mengatakan, "sandiwara, percayalah dia berjanji akan pulang"
Aku tak gila. Aku menyimpannya. Demi prosesmu.
cukup.

Taukah bahwa kau meninggalkan rumah.
Rumah yang sempat kau kunjungi, lalu pergi.
Bahwa kau berjanji akan pulang.
Taukah bahwa rumahmu tak pernah beranjak pergi.
Menunggu pemiliknya penuhi janji.
Taukah bahwa rumahmu sekuat usahanya tetap bertahan tak goyah termakan waktu.
Berkali-kali sendiri menjaga rumahmu, yang kau dan aku bangun.
Padahal tak sedikitpun ku ingat kau sekedar bertanya tentang rumahmu.
Mungkin kau lupa. Karna kau temukan rumah baru yang ku sebut persinggahan.
Aku anggap kau bodoh jika memilih tetap pulang pada rumah yang tak lebih sempurna dari persinggahanmu.
Bukankah sedikit orang yang mau kembali pada akarnya ketika mencapai puncak?
Iya. Aku paham. cukup.

Mungkin kau juga lupa tentang janjimu.
Segampang berdalih bahwa Tuhan adalah sutradara hidup.
Aku paham.
Semudah kau katakan tak pernah ada janji.
Menyuruhku berjalan pada skenario Tuhan.
Aku paham.
Tapi aku tak lupa ingatan.
Aku hanya memintamu membuktikan seluruh omonganmu.
Membuktikan bahwa kau bukan pembual.
Tapi aku lupa satu hal. Bahwa kau laki-laki.
cukup.

Tak lagi aku mau peduli tentangmu.
Juga persinggahanmu.
Aku hanya ingin tinggal dalam rumahku tanpa terusik olehmu.
Aku tak percaya lagi kau akan pulang.
Percayalah persinggahanmu lebih sempurna.
Bahwa rumahmu hanya seperti rongsokan yang dulu sempat kau tinggali.
Aku hanya ingin tanpamu.
Aku hanya ingin tanpamu.
Aku hanya ingin tanpamu.
Menikmati sakit yang kau tinggalkan. cukup.



00 : 42 WIB
H-1 setahun harusnya aku melupakanmu. Peringatan yang tak perlu diperingati. Hari yang tak perlu diingat.

Minggu, 06 Oktober 2013

lagu siapa?

Searching soundcloud nemu musikalisasi puisi yang 'ngena' banget..
Entah backsoundnya yang pas atau perasaan yang lagi nyesek-nyeseknya. Tapi emang backsoundnya bagus banget, ga tau ini lagu siapa sebenernya :'c

ini linknya, selamat mendengarkan :"
https://soundcloud.com/deden-encib-music

Jumat, 04 Oktober 2013

what should i write?

Rasanya udah lama ga ngeblog, ga ada hasrat sama sekali buat ngeblog, ga tau juga sebenernya ini apa yang mau ditulis~

Padahal ada banyak cerita yang terlalui beberapa minggu ini, masih ada banyak hal yang tersimpan rapi di singgasananya, masih banyak bahan celoteh tentang harap yang belum terwujud. Bahkan masih ada luka yang sengaja terabaikan hingga makin membusuk.

Bodohnya masih terbesit kata menerima dan memaafkan karena semua luka yang tak terobati sedikitpun.
Bodohnya lagi masih ada kata rindu yang membuatku menunggu untuk tetap mempercayai semua tentangmu.

Terlalu bodohkah aku? Atau terlalu berartikah kamu untuk pergi dari seluruh memori otakku?

what should i write? then, what should i do?


Jumat, 02 Agustus 2013

:"

Aku butuh pundak saat lelah begitu dalam..
Aku butuh peluk saat seluruh air mata tak lagi mampu mengungkapkan begitu beratnya ini..
Aku butuh kamu, butuh kamu lagi..
Kamu..
Rasanyaaa..
Ah aku lelah sangat lelah..
Aku butuh kamu..
Pulanglah segera, secepat mungkin semampumu..
Pulanglah segera, temui aku..
Pulanglah, aku mohon pulanglah..


*tulisan entah apa ini, sedang sangat kacau, kacau sekali~
Lucky Charms Rainbow